HUT KE-50 TAHUN UNIVERSITAS PANCASILA DAN PELUNCURAN BUKU

Sabtu, 29 Oktober 2016, Universitas Pancasila meluncurkan Buku Sejarah 50 Tahun yang bertempat di Ballroom Djakarta Theater, Jl. MH Thamrin No. 9 Jakarta Pusat. Kegiatan ini dihadiri oleh Sivitas Akademika Universitas Pancasila, (Yayasan Pendidikan dan Pembina Universitas Pancasila, Pimpinan Universitas, Pegawai, Dosen, Alumni dan Mahasiswa) hadir pula dalam kegiatan ini Mitra Universitas Pancasila, Rekanan Media, stakeholder dan tamu penting kenegaraan lainnya seperti Wakil Presiden Indonesia ke-6 periode 1993-1998, Jenderal TNI Try Sutrisno, Mayjen TNI (Purn.) Drs. Hendardji Soepandji, S.H. dan lainnya.

Foto: Kegiatan Peluncuran Buku 50 Tahun di Ballroom Djakarta Theater

Foto: Kegiatan Peluncuran Buku 50 Tahun di Ballroom Djakarta Theater, tanggal 29 Oktober 2016

Kegiatan ini dibuka oleh Rektor Universitas Pancasila, Prof. Dr. Wahono Sumaryono, Apt. dalam sambutannya beliau mengatakan bahwa usia 50 tahun merupakan usia yang matang dan penuh karya jika direfleksikan. Akan tetapi, usia emas bukan berarti akhir perjuangan untuk berkarya, terlebih bagi sebuah institusi. Memperingati ulang tahun emas yang bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, Universitas Pancasila (UP) menyelenggarakan rangkaian kegiatan seperti jalan santai dan bakti sosial kepada warga sekitar, lomba: olahraga dan permainan tradisional, debat hukum, pemilihan dosen berprestasi, program studi terbaik dan masih banyak lagi, kemudian tepat pada tanggal 28 Oktober diadakan upacara sumpah pemuda, perayaan ulang tahun, serta panggung musik dan kemudian rangkaian acara ditutup dengan peluncuran buku sejarah 50 tahun yang berlangsung pada hari ini.

UP memiliki banyak perkembangan dibandingkan beberapa tahun ke belakang. Jika pada 10 tahun yang lalu rata-rata indeks prestasi lulusan hanya menyentuh angka 2,7, maka pada 2015 angka tersebut menyentuh 3,13. Bahkan, lulusan tahun 2016 berdasarkan data terakhir memiliki rata-rata indeks prestasi lulusan hingga 3,25. Jumlah tersebut diiringi dengan kenaikan lulusan tepat waktu sebesar 50%. Tidak mau berhenti di prestasi internal, UP berniat untuk membantu Pemerintah dalam menyongsong bonus demografi demi percepatan pembangunan di Indonesia. “Untuk itu, diperlukan penguatan SDM lewat peningkatan soft skill dan hard skill dari lulusan Perguruan Tinggi”. 

Tidak hanya itu, Prof. Wahono juga menyampaikan bahwa bonus demografi juga perlu dipersiapkan dengan lapangan kerja yang cukup bagi seluruh usia produktif yang nantinya akan membanjiri Indonesia. Jika tidak, maka kemampuan soft skill dan hard skill hanya akan membenani lulusan. Itu sebabnya, UP sudah menetapkan target jangka panjang pada tahun 2030-2034 harus sudah dapat menjadi Entrepreneurial University. Dengan demikian, lulusan UP tidak hanya memiliki soft skill dan hard skill sesuai dengan standar yang ditentukan pihak kampus, melainkan juga memiliki kemampuan menciptakan lapangan pekerjaan. Di usia yang sudah mencapai 50 tahun ini harus kita jadikan momentum untuk bertransformasi ke arah kinerja yang lebih tinggi tersebut,” imbuh Beliau. Hal tersebut merupakan pekerjaan besar. Untuk itu, target pencapaian 5 tahunan sudah disiapkan untuk menopang target besar tersebut. Jika pada tahun 2010-2014 UP membentuk diri menjadi Teaching University yang memfokuskan pengajaran pada kurikulum berbasis kompetensi, maka pada 2015-2019, UP berusaha menjadi Good Teaching and Preresearch University yang membagi lulusan berdasarkan learning outcome dan mengacu pada tridarma Standar Nasional Perguruan Tinggi yang ditetapkan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

Foto: Rangkaian kegiatan memperingati Hut Universitas Pancasila, tanggal 28 Oktober 2016

“Kami sudah susun pedoman standar untuk pencapaian tiga tugas fungsi Perguruan Tinggi, mulai dari Pengajaran, Riset, hingga pengabdian masyarakat”Sedangkan untuk 2020-2024, UP bermaksud untuk menjadi Universitas Riset dengan konsep Sharing Knowledge University. Artinya, setiap hasil riset yang dimiliki harus mampu menjadi stimulan bagi kemajuan Industri Kecil dan Menengah di tanah air. Selain itu, pengetatan sistem penerimaan Mahasiswa Baru juga dilakukan UP dengan menerapkan standar tinggi setiap tahunnya. Jika pada tahun-tahun sebelumnya nilai batas tes akademik hanya 375, maka di tahun ini menjadi 400 dan akan berkembang setiap tahunnya. Begitu juga dengan nilai TOEFL yang ditarget setiap mahasiwa harus memiliki nilai minimal 500. Tenaga pengajar juga menjadi salah satu aspek yang akan dibenahi. “Guru besar harus 20% dari jumlah dosen tetap berdasarkan rasio ideal. Tidak lupa juga kami akan menjngkatkan kualifikasi dosen dari S2 menjadi S3,” papar Wahono. Meskipun demikian, Wahono menyadari jika upaya memanfaatkan bonus demografi tersebut tidak lepas dari peran PT dan Pemerintah juga. Peran UP, dikatakan dia hanya satu dari sekian banyak Universitas di Indonesia yang juga bervisi sama. Untuk itu, diperlukan kerjasama antar Perguruan Tinggi dan Pemerintah.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Pembina Yayasan Pendidikan dan Pembina Universitas Pancasila Dr. (HC). Ir. Siswono Yudohusodo, dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa Riset di Indonesia perlu dibenahi di berbagai aspek. Pasalnya, dirinya menilai setiap terobosan yang dihasilkan akan membuat sebuah negara menjadi pemimpin. “Kita lihat bagaimana Korea, Tiongkok, lalu India dengan berbagai risetnya sekarang dipandang oleh banyak negara,” terang dia. Untuk itu, dirinya melihat bagaimana tantangan riset menjadi tantangan besar di masa mendatang. Dan dirinya berharap UP dapat menjadi salah satu Universitas yang dapat menghasilkan lulusan yang menghasilkan efek besar di Indonesia. Sejauh ini, sudah terdapat 52 ribu lulusan UP yang dipandang dirinya tersebar di segala bidang pengabdian. “Kita harus tetap menonjolkan sifat pancasilais nasionalis yang selama ini menjadi aspek yang selalu kita tonjolkan untuk kemajuan bangsa"

 

HUMAS UNIVERSITAS PANCASILA

Marketing UP